Tentang Saya

Foto saya
Status dosen tetap di jurusan Analis Kesehatan Poltekkes kemenkes Banjarmasin, melalui blog ini saya ingin berbagi pada teman-teman yang menyukai perkembangan bidang kesehatan, terutama tentang manajemen kesehatan dan Laboratorium Kesehatan. Blog ini menyajikan berbagai materi perkuliahan, artikel, hasil penelitian bidang laboratorium kesehatan. Selain itu saya juga dosen pada PSKM Unlam, Akademi Kebidanan dan Akademi Keperawatan di Banjarmasin, Banjarbaru & Martapura. Buku yang telah telah diterbitkan oleh EGC Penerbit Buku-Buku Kedokteran Jakarta tahun 2009 berjudul Parasitologi Untuk Keperawatan. Buku lainnya yang telah disusun dan belum diterbitkan diantaranya buku Helmintologi Medik dan Protozoologi Medik untuk Analis Kesehatan.

Senin, 27 September 2010

Haemoflagellata (Lieshmania trofica)

Lieshmania trofica


Morfologi  dan siklus hiudp sama dengan Leishmania donovani,  hanya  lebih ringan.
Manusia merupakan hospes definitif, dan sebagai hospes reservoar di antaranya adalah anjing, gerbil dan binatang pengerat lainnya. dengan hospes perantara lalat phlebotomus. Parasit ini menyebabkan leishmaniasis kulit atau “oriental sore”.  Ada dua tipe “oriental sore” yang disebabkan oleh strain yang berlainan, yaitu : (1) Leishmania kulit tipe kering atau urban yang menyebabkan penyakit menahun. (2) Leishmania kulit tipe basah atau rural yang menyebabkan penyakit akut.

Distribusi Geografik
Daerah endemis penyakit ini terdapat di berbagai negera sekitar Laut Tengah, Laut Hitam, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, negari-negari Arab, India, Pakistan dan Sailan, dan di Indonesia penyakit ini belum pernah ditemukan
Cara Penularan ; (1) Melalui gigitan lalat phlebotomus, atau melalui kontaminasi pada bekas gigitan dan luka-luka. (2) Kecepatan infeksi penyakitnya pada daerah – daerah endemin bersifat konstan, hal ini oleh karena kebiasaan menggigit dan vektornya tetap, yaitu pada musim–musim tertentu. 

Patologi dan Gejala Klinis 
Setelah parasit masuk ke dalam kulit hospes dan mengadakan multiplikasi di dalam sel retikulo endotel, tanda pertama kelainan kulit yaitu timbulnya papula yang keras dan tidak terasa sakit pada tempat gigitan. 
Masa inkubasi dapat pendek selama 2 minggu (L. major), atau beberapa bulan  sampai 3 tahun (L. tropika minor dan L. aethiopica). Papula terdapat pada bagian badan yang terbuka dimana serangga dapat menggigit. Papula terasa sangat gatal dan ukuran diameternya dapat mencapai 2 cm atau lebih. Dapat menyerupai jerawat selama pertumbuhannya, tetapi tidak menyerupai abses piogenik bakteriil. 
Dengan berlanjutnya proses multiplikasi parasit di dalam histosit, timbul destruksi papula diikuti nekrosis epidermis. Papula yang disebabkan oleh L. major ditutupi dengan eksudat serosa dan ulserasi, sedangkan papula yang terbentuk dari Leishmania tropica minor dan Leishmani aethiopica bersifat kering dan mengalami ulserasi setelah beberapa bulan. Bentuk ulkus seperti kawah dengan tepi yang menebal dan ukurannya terbatas. 
Terjadi pembentukan jaringan granulasi dan akhirnya terjadi penyembuhan spontan.  Pasien yang terinfeksi dapat sembuh sebelum atau sesudah ulserasi;  ulserasi akan meninggalkan bekas jaringan parut.  Lesi dari Leishmania major seringkali multipel, terutama pada pasien non-imun.  Lesi dapat berkonfluens dan mengalami infeksi sekunder.  Seringkali lesi semacam itu penyembuhannya lambat.  Lesi dari Leishmania tropica pertumbuhannya lambat dan mungkin tidak terjadi ulserasi. 
Infeksi dengan Leishmania aethiopica dapat menimbulkan tiga tipe lesi : “Oriental sore” yang klasik ; leishmaniasis mukokutan ; atau leishmaniasis kutan yang difus (LKD).  LKD mempunyai ciri khas berupa penebalan kulit berbentuk plak, papul, atau nodul multipel, terutama di bagian wajah dan anggota badan.  Dalam banyak hal, penyakit ini menyerupai lepra lepromatosa. Tidak terdapat kelainan mukosa atau ulserasi, dan penyakitnya tidak sembuh secara spontan. Infeksi mukokutan pada membran mulut, hidung, faring, dan laring, dapat menyebabkan destruksi jaringan lunak dan kartilago yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk.
Meskipun lesi kutan biasanya sembuh spontan, beberapa pasien mungkin bersifat alergi atau hipersensitif. Infeksi leishmania merangsang respons imun seluler maupun humoral.  Sembuhnya hospes tergantung dari perkembangan imunitas seluler.

Diagnosis
diagnosis terhadap kasus ini dengan cara ; (1) menemukan parasit dalam sediaan apus yang diambil dari tepi ulkus atau dari sediaan biopsy,  (2) pembiakan dalam medium N.N.N, dan (3) reaksi imunologi.
Di daerah endemik, diagnosis dapat ditegakkan atas dasar klinik, sehingga dibutuhkan pengenalan yang baik mengenai penyakit ini.  Diagnosis pasti tergantung dari ditemukannya bentuk amastigot dalam spesimen klinik atau promastigot dalam kultur. Leishmaniasis kutan dan mukokutan harus dibedakan dari ulkus tropikum, sifilis, frambusia, lepra, blastomikosis Amerika Selatan, atau sporotrikosis.
Biopsi dan aspirasi dapat diambil dari tepi lesi yang berindurasi.  Kerokan umumnya hanya akan menghasilkan infeksi bakteri sekunder.  Bahan yang didapat dari ulkus melalui aspirasi atau biopsi harus diambil dari bagian bawah ulkus.  Bahan aspirasi diletakkan di atas kaca obyek  untuk dikeringkan dan diperiksa dengan mikroskop.  Dari potongan jaringan biopsi juga dapat dibuat “imprint” jaringan atau sediaan apus. Semua sediaan yang akan dipulas dengan Giemsa, sebelumnya harus dikeringkan di udara terbuka dan difiksasi dengan methanol 100%.  Stadium amastigot akan ditemukan di dalam makrofag atau berada dekat dengan sel–sel yang pecah.  Stadium ini dapat dikenali dari bentuk, ukuran, perwarnaan yang khas dan terutama dengan adanya kinetoplas intrasitoplasmik. Dengan pulasan Giemsa, sitoplasma akan berwarna biru muda sedang inti dan kinetoplas akan berwarna merah atau ungu.  Pada lesi yang sangat dini atau lama, parasit hanya ditemukan sedikit, sehingga untuk menemukannya diperlukan pemeriksaan sediaan lebih lanjut.
Bahan untuk kultur harus diambil secara aseptis untuk membatasi kontaminasi bakteri yang cepat tumbuh dalam media kultur yang digunakan.  Sebelum dikultur, jaringan yang diambil harus dipotong-potong dulu.  Media yang digunakan adalah medium Novy, MacNeal, dan Nicolle (NNN) serta medium Drosophilia Schneider yang ditambah dengan serum fetus sapi 30%.
Sebelum memastikan bahwa kultur tersebut negatif, kultur harus diperiksa dua kali seminggu sampai 4 minggu kemudian.  Stadium promastigot dapat dideteksi secara mikroskopis melalui sediaan basah, lalu dipulas dengan Giemsa untuk mengetahui morfologinya.

Pencegahan
Metode pencegahan yang mungkin dilakukan yaitu melakukan penyemprotan tempat tinggal dengan insektisida dan mengoleskan repelen serangga pada kulit (Marsden, 1984). 
Penyemprotan merupakan kontrol yang efektif untuk leishmaniasis kutan di perkotaan tetapi tidak sesuai untuk tipe rural.  Kawat kasa dengan lubang yang halus juga dapat digunakan meskipun akan mengganggu pertukaran udara, dan seperti repelen serangga tidak menyenangkan bagi pemakainya.  Dibanyak daerah, kontrol terhadap reservoar tidak berhasil.
Seseorang dengan lesi, harus menggunakan penutup lesi untuk mencegah gigitan serangga, dan pasien juga harus diterangkan mengenai kemungkinan terjadinya autoinfeksi atau autoinokulasi.


Epidemiologi
Semua lalat pasir betina dewasa yang menularkan leishmaniasis kutan termasuk dalam genus Phlebotomus.  Vektor yang paling umum adalah P. papatasi dan P. sergenti.  Infektibilitas dari Phleboromus sp. terhadap L. tropica kompleks bervariasi, sehingga berpengaruh pada penularan penyakitnya.  Infeksi juga dapat ditularkan secara kontak langsung dari lesi yang terinfeksi atau secara mekanik melalui gigitan lalat kandang atau lalat anjing (Stomoxys).
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya transmisi antara penderita dan vektor, dianjurkan untuk menutup luka pada penderita.  Pemberantasan vektor (lalat pasir) dilakukan dengan penyemprotan DDT secara residual pada rumah-rumah.  Juga dianjurkan memakai kelambu atau repelen waktu tidur agar terlindung dari gigitan lalat.  Imunisasi aktif dengan jasad hidup dapat memberikan perlindungan yang efektif, meskipun imunitas tersebut baru didapat setelah beberapa bulan.
Di daerah endemik, vaksinasi diberikan dengan melakukan inokulasi eksudat dari lesi yang didapat secara alamiah ke orang yang nonimun. Proses imunisasi ini mirip dengan infeksi alamiah dalam hal luas dan lamanya penyakit. Infeksi ini biasanya terbatas sebagai lesi tunggal. Orang yang diimunisasi akan menjadi pembawa penyakit (“carrier”) dan sumber infeksi sampai lesinya sembuh.  Imunisasi jenis ini akan memberikan perlindungan seumur hidup untuk spesies yang homolog.

Tidak ada komentar: